Monday | December 03, 2007

Agse: A Motivated Man (4)

Batam seolah menjadi tempat asing yang agse pernah kunjungi. Selama hidup di Blitar, mungkin Surabaya saja yang menjadi tempat terjauh dikunjunginya. Tak pernah di sangka, bahwa Batam kini harus menjadi lingkungan baru baginya. Namun bagi dirinya yang telah ditempa akan kerasnya hidup semasa kecil hingga SMA, tak sedikitpun mental agse jatuh akannya. Sebagai seorang "Fresh Graduate" tentunya banyak hal yang dia hadapi dalam masa penyesuain. Banyaknya tantangan baru yang jauh beda di hadapi, mulai dari sifat orang yang selalu berbeda, kerjaan yang sulit, hidup sebagai anak kos, kerja lembur, dan lainnya.

Sangat beda kalau kita lihat, selayaknya anak yang baru lulus, dengan rasa idealis yang sangat tinggi dan rasa lebih "jago" akan bidangnya , agse bukanlah orang tipikal seperti itu. Sifat "nrimo" dan sifat tekun yang sudah menjadi bagian dari dirinya yang membuatnya terus bertahan di perusahaan awal dia bekerja. Agse bukanlah orang yang suka berpindah-pindah kerja karena tidak cocok dengan bidang atau tidak cocok dengan rekan sejawat atau atasannya. Apa yang dia hadapi semuanya adalah ilmu baru baginya. Dia sadar, sebagai orang yang selalu haus akan pengetahuan baru, dia ikuti semua yang dia hadapi sehari - hari.

Gaji yang diterimanya cukup lumayan, ditambah dengan tambahan dari overtime yang memang harus dilakukan oleh perusahaan. Disisihkannya gaji untuk orang tuanya dan bagi dirinya hidup dengan secukupnya saja. Agse sadar, dengan pendidikan D3 nya, dia pasti akan menemui saat dimana karirnya akan tetap di satu posisi. Maka, dengan menyisihkan sedikit lagi dana yang ada, dia gunakan untuk melanjutkan sekolahnya, untuk mendapatkan gelar kesarjanaan.

Enam tahun berlalu tak terasa baginya telah banyak dirinya menimba asam garamnya sebagai karyawan di Batam.  Tak terasa, apa yang telah dia sisihkan bagi orang tuanya dan dirinya terlihat hasil yang sangat mengejutkan dan menyenangkan.  Orang tua agse dengan sangat pandai menyisihkan setiap kiriman agse untuk ditabungkan dan untuk pendidikan adik-adik agse dan untuk membeli rumah yang memang layak di sebut rumah tinggal.  Tidak lagi berdindingkan anyaman bambu, tidak lagi hanya memiliki satu lampu 5 watt, dan tidak lagi hanya dua kamar yang digunakan bersama seluruh keluarga.  Dua adiknya telah selesai mengenyam pendidikan tinggi, dan si bungsu kini sedang berusahan untuk menyelesaikan kuliahnya.

Enam tahun yang cukup lama bagi agse untuk berjuang bukan untuk dirinya.  Dia sadar, orang tuanyalah yang jauh masih lebih hebat darinya dan dari orang tuanyalah yang telah mendidiknya dan membimbingnya menjadi orang yang berguna.  Dia sadar benar bagaimana setiap butiran keringat sang ayah yang dia tak akan mampu membalasnya, sang ibu yang yang menyayangi dirinya, tidaklah mampu dia menggantikan satu tetes air susu yang diberikannya.  Agse sadar, dia harus menjadi tumpuan keluarganya dan dia yakin bahwa dia mampu untuk membantu kehidupan keluarganya.

Tujuh tahun berjalan, agse menemukan tumpuan hatinya di Batam.  Seorang wanita yang solehah, anak tegal , rekan satu kerja, dan cukup mandiri.  Di Batamlah  benih cinta mereka bersemi yang kemudian melangkah terus sampai jenjang pernikahan. . . . (bersambung)




Posted by RICKY at 11:51:22 | Permanent Link | Comments (0) |

Friday | November 30, 2007

Agse: A Motivated Man (3)

Lulus sebagai Ahli Madya memanglah suatu hal yang membanggakan bagi sang ayah.  Tentu saja, seorang tukang becak, pasukan kuning, tukang bakso, dan nasi goreng tak pernah menyangka bahwa dia mampu mengantarkan sang anak ke pendidikan yang jauh lebih tinggi darinya.  Pernah ada orang yang berkata dan sering kita dengar, kesabaran akan membuahkan hasil yang optimal.  Begitulah yang terjadi dengan keluarga agse ini.

Namun, lain halnya dengan agse sendiri.  Kini dia harus mencapai niatannya.  Sebagai anak sulung dia tidak mau lagi membebankan orang tuanya yang sudah cukup membanting tulang baginya selama puluhan tahun.  Kini saatnya dia harus membalas jasa-jasa orang tuanya, walaupun sebenarnya tidak pernah ada orang tua yang menginginkan jasanya diingat dan di balas oleh anaknya.  Namun, seorang anak yang berbakti dan bertanggung jawab, itulah niatan kuat agse.

Dengan bekal secukupnya, agse berangkat menuju ke ibukota negara untuk ikut seleksi penerimaan karyawana freeport. Dengan tekunnya dia ikuti tahapan-tahapan seleksi freeport hari demi hari dan waktu demi waktu.  Baginya waktu sedetik adalah suatu harga yang sangat mahal harus dia bayarkan apabila ditinggalkannya.

Satu bulan telah berlalu dari seleksi freeport.  Sayang, dia belum berhasil untuk lolos.  Namun, baginya hal itu bukanlah jalan buntu.  Kembali dia mencoba untuk melamar di setiap pekerjaan yang ada.  Tekunnya dia mengikuti semua kesempatan, semangatnya dia akan pencapaian niatannya akhirnya membuahkan hasil yang menyenangkan.  Tibalah suatu surat dari satu perusahaan di Batam dan dia diterima.  Alhamdulillah! tidak pernah terbayangkan baginya, kini jalan untuk mencapai niatannya sudah di depan mata.

Berpamitan dengan orang tuanya, seolah tak rela sang orang tua melepas anaknya jauh sekali.  Mungkin mereka paham, bahwa anak sulungnya memiliki tekat yang keras.  Tak satu orang tuapun yang akan rela melepas anaknya jauh dari dirinya, apalagi bagi seorang ibu.  Anak yang dulu disusuinya, yang membuatnya tertawa dikalah lelah akan beban kerja seharian, anak yang tangisannya selalu membuatnya rindu dikala sepi, anak yang hangat rasanya apabila dia memeluk dirinya, anak yang tak pernah sedikitpun berkata kasar padanya.  Namun, naluri seorang ibu, tak akan pernah dia mementingkan dirinya dahulu sebelum anaknya, ibunya pun rela melepaskan agse menuju Batam.

Dengan berbekal niat, mental, serta sedikit uang agse berangkat menuju Batam dengan pesawat.  Bayangkan, itulah pengalaman yang paling pertama sekali baginya menaiki pesawat.  Salah satu hal yang membuat diri kita merasa sangat senang, apabila kita merasakan sesuatu yang kita sama sekali belum pernah merasakannya.  Mungkin bagi anda semua kini naik pesawat adalah hal yang wajar sekali, sehingga anda sering lupa akan indahnya diatas melihat kepulauan nusantara, anda lupa merasakan takutnya diri sewaktu pesawat lepas landas.  Nah, anda lupa kan? Manusia sudah terlalu lupa akan semua kenikmatan yang telah berulang kali dia rasakan.  Berhematlah anda untuk menikmati sesuatu, jangan biarkan kenikmatan itu akan terasa hambar bagi anda.

Agse, kini impianmu pasti akan tercapai, orang tuamu pasti akan bangga akan dirimu, pengorbanan, keringat, serta susahnya orang tuamu pasti akan terobati.  Kini satu tujuan agse awal bekerja, Aku bekerja untuk orang tua dan adik-adikku ..... (bersambung)
Posted by RICKY at 10:39:31 | Permanent Link | Comments (2) |

Agse: A Motivated Man (2)

Agse lahir di blitar 33 tahun yang lalu.  Sang ibu yang tidak pernah mengennyam pendidikan yang tinggi patut diacungkan jempol. Banyak orang saat ini, karena hanya mengejar materi lebih rela memberikan asuhan anaknya ke seorang baby sitter.  Namun lain halnya dengan ibu sulis.  Dalam membantu kehidupannya, sang ibu sempat bekerja sebagi pembantu rumah tangga di rumah seorang expatriat di daerah kebon rojo, Blitar.  Uang demi uang dikumpulan oleh ayah dan ibu agse sebagai rasa tanggung jawab seorang orang tua yang kelak akan mengantarkan anaknya ke kesuksesan.

Mereka keluarga yang tidak pernah mengenal kartu kredit, kehidupan mewah, kehidupan foya-foya, ataupun kehidupan yang serba ada.  Namun dengan keterbatasan yang ada, mereka dapat menikmati hidup.  Sang ayah, yang sempat menjadi pasukan kuning (pasukan kebersihan pemerintah daerah setempat), tukang becak, tetap berpendirian bahwa dia mampu mengantarkan anaknya jauh lebih baik baginya.  Keringat yang menetes, bau yang menyengat, terik matahari yang panas tak pernah membuat sang ayah gentar akan kehidupannya. 

Tapi jangan heran, ternyata agse masih memiliki tiga adik lagi.  Tentunya secara logis analis, selalunya kita tidak pernah berfikir, bagaimana sang ayah dan ibu menghidupi anak-anaknya sampai besar?  Lain dengan para pasangan hidup jaman sekarang.  Jika perlu satu anak atau dua anak saja dengan alasan biaya hidup yang besar.  Hm? mungkin mereka yang berpikiran seperti itu harus belajar banyak dari orang tua agse.  Orang tua yang bukan mengemban gelar sarjana, insinyur, kedoteran, ataupun mungkin seorang profesor. Tapi mereka orang tua yang patut diberikan gelar yang cukup tinggi dan lebih dari seorang profesor sekalipun.  Seorang imuwan matematikapun tidak akan mampu memformulasikan suatu persamaan bagi kehidupan keluarga agse.

Lulus Sekolah Menengah atas adalah hal yang cukup menakutkan bagi agse.  Dia paham, bahwa orang tuanya pasti akan terasa berat menyekolahkan anaknya ke bangku kuliah.  Tahun 1994, dikala sekolah negeri masih belum membuka jalur khusus, tentunya UMPTN adalah satu-satunya jalan agse untuk meringankan beban orang tuanya. Mungkin bukan suatu kebertuntungan bagi agse di saat dia gagal UMPTN dan akhirnya dia memilih sekolah politeknik negeri dimana dia berkeyakinan, bahwa dia pasti akan langsung bisa kerja setelah lulus. 

Kuliah, ..hm.. bagi mereka yang cukup mapan akan perekonomian keluarganya, tentu bukanlah suatu masalah dalam membeli peralatan kuliah, biaya kos, makan, dugem, dan lainnya.  Tapi mereka bukanlah agse.  sang ayah harus menjual becak kesayangannya untuk biaya awal masuk kuliah agse.  Disetiap bulannya dia hanya menerima uang saku 50 ribu dari sang ayah.  Uang itu digunakannya untuk pembayaran uang kos, kuliah, dan makan.  Cukupkah? Satu hal yang cukup hebat dari seorang agse.  Dia tidak pernah mengeluh , dia tidak pernah meminta ke orang tuanya untuk ditambahkan uang sakunya yang sangat pas (mungkin kurang) untuk hidup satu bulan di kota besar seperti Malang.  Jiwa enterpreneurship seorang agse pun muncul.  Dengan membantu kawan-kawannya dalam pelajaran kuliahnya, agse mampu menghidupi dirinya sendiri.  Sedikit mungkin, namun itulah yang mebuat agse beda; sedikit tapi digunakan secara terselektif.  Wow, beda bukan dengan kita yang lebih suka menghamburkan uang seenaknya.

Perjalanan kuliah yang panjang, tida tahun dilewatinya dengan penuh perjuangan, agse pun lulus dengan baik.    Satu tantangan kini baginya adalah; mencari kerja.  Saatu niat yang selalu terlintas di benaknya sebagai anak sulung; dia akan membantu orang tuanya dan adik-adiknya.  Dia ingin adik-adiknya kuliah dan tidak pernah bermasalah dengan materi atau uang.  Suatu niat yang bukan untuk dirinya, tapi untuk keluarganya. . .  (bersambung)

Posted by RICKY at 07:47:09 | Permanent Link | Comments (0) |

Monday | November 26, 2007

Agse: A Motivated Man (1)

Agse, itulah panggil salah satu kawanku dari SMP. Anak seorang tukang becak yang hidupnya pas-pasan tapi tidak pernah mengeluh akan sulitnya hidup dia. Layaknya seorang anak yang dibesarkan sebagai anak sulung diharuskan baginya untuk membantu sang ayah dalam menafkahi keluarganya. Setiap kita melewati depan jalan sultan agung blitar, pas di pertigaan menuju kebun rakyar, kita pasti melihat sang ayah duduk menanti pelanggan yang hendak bepergian.

Agse jauh dari kebanyakan anak sekolah di saat itu, sesaat ayahnya rela menjual beberapa becaknya untuk dibelikan rombong bakso, dia diharuskan membantu sang ayah untuk menjajakan bakso setiap harinya. Apabila sekolah di siang hari, maka pagi hari dia menjaga rombong baksonya begitupula sebaliknya. Disaat semua siswa hari bermain sepeda dan pergi ke rumah teman, agse tetap tetap setia menunggu di depan rombong baksonya.

Rumah mungil yang berdindingkan anyaman bambu tampak sudah lusuh, hanya ada 3 ruang kecil yang ada, dua kamar tidur bagi agse dan 2 adik laki-lakinya dan satu kamar lagi untuk ibu dan adik perempuannya. Mungkin ayahnya tidur di lantai. Rumah kecil yang hanya berukuruan 3 x 4 meter itu cukup bagi 5 jiwa untuk hidup di dalamnya. Ruang tamu yang berubah fungsi menjadi tempat kegiatan jualannya terlihat sedikit pengap karena terkadang bau masakan rumah terasa diseluruh sudut rumah itu.

Sang ayah, yang hanya lulusan SD tak pernah sedikitpun merasa kecil di hadapan setiap orang yang dijumpainya. Dengan keramahannya membuatnya sangat di kenal setiap orang di daerahnya. tak pernah bersedih dan tak pernah menangisi hidupnya. Hanya satu keyakinan bagi dirinya, SEKOLAH untuk anaknya adalah jauh lebih penting akan dirinya.

1992, Agse harus memasuki sekolah menegah atas, sebagai anak sulung dia membawa beban yang sangat berat baginya. Namun, keceriaan serta ketenangan dirinya tidak pernah membuat dirinya berputus asa untuk tetap belajar dan belajar. Tahun dimana dia mulai bersekolah di SMA adalah juga tahun dimana ayahnya mencoba kembali untuk menjajakan panganan, di jual rombong baksonya , dengan modal yang ditambah hasil keringat mengayuh becak di belilah peralatan masak , kayu - kayu untuk membuat meja dan kursi, dan menjadilah warung nasi goreng, capcay, mie goreng yang sediki tlebih besar dan memiliki tempat bagi orang untuk duduk dan bercengkrama di dalamnya.

Tungku yang masih menggunakan bara arang membuat nasi gorengnya laku keras. Namun suatu tugas baru bagi agse, bahwa dia kini bukan lagi siang hari dia harus membantu ayahnya. Sore hari jam 4 sore dia mulai membantu sang ayah untuk mendirikan warungnya, siap jam 5 sore dia juga harus membantu sang ayah melayani para pelanggan yang berdatangan. Panas terasa di saat agse memberikan oksigen di bara arang untuk tetap hidup, sementara keringat sang ayah yang bercucuran untuk memasak kebutuhan pelanggan.

Kini waktunya hanya tersisa sedikit, siang hari dia haru sekolah sampai jam 12, istirahat siang, dan sore dia harus kembali bekerja. Kadan sangat menghererankan? kapan waktu agse untuk tetap mengulangi pelajaran di sekolahnya?. Satu waktu yang masih tersisa bagi dirinya adalah malam hari, setelah jam 10 dan pagi hari di waktu subuh menjelang jam 6.

Setiap selesai membereskan semua peralatan masaka dan warungnya, agse menatanya kembali di samping rumahnya. Kemudian dia makan malam dari nasi goreng, capcay, atau nasi goreng yang belum habis terjual. Layaknya tak mengenal lelah, selesai menyantap makan malamnya, agse mengambil lampu minyak yang ditaruhnya di meja kecil yang biasa digunakan sang ibu untuk memotong dagind, sayuran, dan bumbu-bumbu. Dibukanya buku sekolah untuk belajar. Yah benar, hanya dengan satu lampu minyak, meja kecil dan kursi kecil (dingklik). Agse mulai belajar dengan semangat walaupun tak banyak sisa tenaga yang dimilikinya di waktu malam setelah satu hari penuh tak berhenti dirinya berkegiatan.

Rumah geded (anyaman jerami) itu memang tidak memiliki listrik, mungkin PLN pun enggak untuk memasangnya. Untuk memasuki rumahnya kita harus melalui gang sempit yang hanya bisa di lewati satu sepeda motor saja. Gang yang gelap namun bersih. Keluar dari ujung gang, kita akan melihat beberapa rumah di sana. Dan hanya satu yang berdindingkan anyaman bambu. Terlihat kabel listrik yang melintag dari rumah sebelah ke rumah agse. Terlihat, ternyata hanya satu lampu 5 watt saja yang terpasang dirumahnya, tiap bulannya dia hanya membayar kepada tetangganya untuk penggunaan satu 5 watt lampu.

Pasti kita akan terheran - heran, bagaimana dia melihat acara televisi? tentunya dengan sedikit listrik dari tetangganya, tak akan mampu baginya untuk memiliki satu unit televisi hitam putih sekalipun. Untuk melihat televisi, agse harus ke tetangganya untuk menumpang melihat acara televisi. Sangat meyakinkan sekali, tak akan mampu bagi para siswa di saat itu, di sebuah kotamadya, tidak memiliki listrik dan televisi. Namun, begitulah yang dialama agse.

Dengan keterbatasan fasilitas yang ada, ternyata tidak pernah membuat agse untuk gentar akan mengenyam pendidikan. Pagi haripun sebelum fajar mengingsing, digunakannya waktu untuk membuka sedikit beberapa lembar buku pelajarannya. Berjalan kaki ke sekolah adalah hal yang sudah lumrah baginya. Dengan jarak tempuh yang hanya 1 km, tentunya tidaklah terlalu melelahkan dirinya.

..... (to be continued)
Posted by RICKY at 07:59:32 | Permanent Link | Comments (0) |

Tuesday | August 21, 2007

Politik WC

Agustus 1992 (wuih lama bener...) he he tapi itulah awal saya belajar berorganisasi di lingkungan yang kecil, yaitu di sekolah menengah atas.  Padahal, sebelumnya saya belum pernah berkecimpung sama sekali dalam suatu organisasi apapun.  Entah kenapa, para kawan-kawan yang tergabung dalam grup pencinta alam, memberikan dukungan moral dan strategi yang maksimal yang akhirnya saya menduduki jabatan ketua OSIS.  Wow, jabatan bergengi kah?  Bisa saya katakan iya.  Dengan kondisi bahwa OSIS di SMA adalah OSIS yang sudah mulai mandiri, dimana 90% administrasi dan kegiatan diatur langsung oleh organisasi ini.  10% - yah dana OSIS yang masih di pegang oleh pihak bendahara sekolah tentunya.  Jadi masalah duit, masih belum bisa dilepas.

Dengan tidak ada pengalaman sama sekali dalam organisasi, tentunya saya harus memilih pendamping alias wakil yang sudah cukup matang dalam organisasi.  Dalam aturannya, pemenang kedua dan ketiga dalam pemilihan harus menjadi wakil dan sekretaris.  Namun terus terang, karena kondisi sama-sama tidak berpengalaman (semua calon he he he) akhirnya saya tunjuk calon independen yang diluar para calon, seorang kawan yang aktif di bidang jurnalistik.  Wow. ..kawan satu ini, ternyata sangat senior dalam organisasi.  Mulai dari surat menyurat, penomoran, sampai dengan undangan, sampai dengan rapat dan sidang, beliau sangat sabar membimbing saya yang tergolong anak baru di OSIS.  

Dalam menjalankan organisasi yang kecil inilah, say aberkenalan dengan satu jargon yang sampai sekarang masih terngiang di telinga saya.  POLITIK WC.  He he he sedikit kasar namun ini menarik untuk dibahas.  Mungkin bagi beberpa kawan sudah pernah mendengar jargon ini atau mungkin baru pertama kali mendengar.  Ada satul hal kasus yang menarik bagi saya di saat menjabat sebagai ketua OSIS.  Saat acara hari kemerdekaan, kami harus membuat acara perlombaan dan acara santai ... dan kemudian kami pilih acara FUN BIKE, yang saat itu emang sedang ngetren.  

Kasus yang menarik adalah di saat panitia telah melalui jalur birokrasi yang ada untuk mendapatkan perijinan; penggunaan jalan, keramaian, dan lain-lain.  Tak disangka, ternyata perijinan tersebut sangat mudah dan cepat sekali di dapatkan, dalam tempo 2 hari semua sudah selesai.  Tingaal menunggu hari H yang sudah ditunggu tunggu dan tentunya sudah ada keyakinan bahwa semuanya berjalan sangat lancar.  2 Hari sebelum hari H - seorang guru TU memanggil, bahwa saya mendapatkan telepon dari kantor walikota.  Langsung saya terima telepon dan beliau meminta saya sebagai ketua OSIS untuk datang ke kantor walikota berkenaan dengan acara FUN BIKE.  Wow, kenapa neh?  wah .. cukup dag dig dug juga .. lah disuruh nemuin walikota langsung, bukan staffnya.

Akhirnya, setelah mendapatkan ijin dari sekolah untuk keluar lingkungan sekolah, naik sepeda motor astrea prima saya berangkat menuju kantor walikota bersama seorang kawan, yang kebetulan adalah salah satu panitia FUN BIKE. Berharap kami bisa saling berdiskusi pada saat ada masalah yang muncul.  Namun, sangat terkejut sekali, di saat menaiki lantai dua dimana kantor walikota berada, kawan saya disuruh menunggu diluar dan hanya saya yang diperbolehkan masuk.  *GLuk* tentunya tambah ngeri juga neh ... lah salah apa kita ini?

Lebih terkejut lagi di saat memasuki ruangan walikota yang besar, ternyata bukan walikota saja yang berada di sana, para pejabat lain, seperti sekda, kepolisian, TNI, dan beberpa pejabat dari departemen lain sudah duduk di kursi semuanya dan sudah ada tiap orang satu gelas kopi yang harumnya terasa sekali.  Bapak lumbangaul, itulah orang yang memulai berbicara, yah dari namanya tahulah kalau dia adalah orang seberang dan kebetulan saya tidak menanyakan posisi beliau, karena di kepala udah pada puyeng berpikiran, kenapa lagi ini?

Ricky, kami minta acara FUN BIKE saudar di tunda atau di pindahkan rutenya, karena hari tersebut adalah berketepatan denga acara FUN BIKE PEMDA setempat dengan rute yang sama.  HA!!!  cukup terkejut sekali, apa yang dia minta ke saya.  Kemudian saya sedikit menjawab, bahwa perijinan rute dan hari sudah kami dapatkan dengan stempel resmi kebetulan dari kepolisian setempat 2 minggu sebelumnya dan karena tidak tahu untuk apa datang, saya tidak membawa datanya.  Tapi saya sebutkan nama orang yang memberikan ijin, dan beliau mengatakan bahwa masih belum ada rute dan jadwal yang masuk selain dari kami.  Satu orang dari aparat kebetulan sering kerumah orang tua juga hadir di sana dan saya sangat mengenal wajahnya.  Tetap saya bertahan bahwa kita tidak bisa merubah rute, karena waktu sudah tinggal 2 hari dan ternyata ijin mereka baru masuk beberpa hari saja ... jadi dengan posisi ini tentunya kesalahan bukan di pihak saya.  Karena saya posisi defen, pada berkoarlah mereka yang hadir di sana, memintasaya untuk mengalah.  Wow, mengalah? tentunya harus dilihat konteks dimana kesalahan itu terjadi.  Karena kalah suara dari para pejabat tinggi serta kalah posisi hue he he sendirian jek, anak SMA dilawan orang tua tua yang sudah umur 40 an tahun keatas.  Dan akhirnya, keputusan dari mereka:  saya harus ganti jalur, ganti hari, atau ada sangsi ke saya.  Wah wah .. ini dia nih, tambah menarik sekali.  Lah kalau secara hukum, saya harus mengadu kemana? orang semua pejabat ada di situ dan sudah satu suara.  AKhirnya, dengan melihat saya mewakili bukan pribadi, tapi mewakili OSIS, akhirnya saya mengalah dan mengatakan, saya akan memberikan jawaban siang ini jam 12 siang, karena saya harus adakan rapat koordinasi dahulu.  Akhrinya mereka setuju dan saya pun keluar dari kandang singa he he he

Saya mencoba negosiasi dengan pihak pembina OSIS untuk membantu, ternyata he he  mereka sudah lebih tahu masalah ini dan mereka tidak bisa memberikan dukungan ke OSIS.  Akhirnya, dengan cepat hari itu juga kami ganti rute yang ada dengan tidak merubah hari H yang ada.  Selesai semua, kami telepon pihak kantor walikota dan kami konfirmasi bahwa kami rubah rute dan akan kami kirimkan (maaf waktu itu sekolah ane belum ada mesin fax .. ndesssoo tenan kan).  Dan kami minta waktu itu, rute ini harus disetujui dan tidak ada embell embel harus ada perijinan ulang.  Mereka setujua dan akhirnya acara berjalan dengan loncer sekali.

 Disana seorang kawan mengatakan, itulah yang namanya politik WC,  politik WC? apa itu?  dia mengatakan, politik ini bagaikan orang yang masuk ke kamar mandi dan sedang membuang hajatnya.  Kita lihat, tentunya dalam saat pertama kali dia melakukan kegiatannya, tentunya tak tahan juga dengan bau bauan yang ada.  Tapi, di saat dia lebih lama di dalam sana, tentunya bau tersebut sudah seakan menjadi bau bauan yang sangat harum dan asik.  he he he .. jadi kawan ini bicara,  mereka yang saya hadapi, tentunya di saat awal juga pasti akan tidak sepaham, namun melihat kondisi, situasi, posisi, dan lain-lainnya dia harus menahan apa yang dia tidak sepahamkan dan lama kelamaan dia sudah akan terbiasa dengan itu.  Sama saja dengan artikel di blog ini tentang "Mau Idealis atau Realistis".  Sang pejabat baru (diperankan derry drajat) dipaksa harus mengikuti "bau" yang sudah ada dengan melihat posisinya dan lama kelamaan akhirnbya dia merasa enjoy dengan suasananya.

Hanya orang-orang yang diluar kamar mandi yang masih sadar akan bau yang mengganggu akan selalu berteriak ...WOIII .. BAUUU oiiii ... , siram KEK, jangan makan jengkol kek .. dan lain .. lain.  Orang tesebut akan selalu berteriak setiap ini muncul namun jikalau orang yang diluar tersebut masuk juga di dalam WC.. he he he entah apakah dia akan berusaha untuk menutup hidungnya atau dia akan berusaha membuat suasana akan enjoy baginya.?  mau di posisi manakah anda?

Posted by RICKY at 15:10:43 | Permanent Link | Comments (0) |

Monday | August 13, 2007

BUBUR CAKWE, KECAP, KACANG UNTUKMU PILKETUM PKS (Pers. Keluarga.SIlungkang)

Minggu, 12 Agustus 2007, saya hadir dalam acara pemilihan ketua umum organisasi warga silungkang di Jakarta. Menarik sekali, karena ini baru pertama kalinya saya ikut karena memang ingin tahu apa sebenarnya yang dilakukan para senior-senior dalam melakukan pemilihan.
Tentunya, bukan tak berdasar untuk bisa hadir di sana. Memperhatikan akan adanya pasal tentang Hak dan Kwajiban Anggota di AD/ART yang berlaku(tepatnya ART Pasal 5 Ayat 2), saya merasa bahwa wajib seharusnya para anggota (yaitu warga silungkang yang di Jakarta dan sekitarnya)untuk hadir dalam acara tersebut. Karena hanya di Rapat Anggota inilah para warga akan menentukan siapa pemimpin yang di pilihnyayang dianggap bisa membawa organisasi sosial ini menjadi organisasi yang mengayomi seluruh warga silungkang di Jakarta.

Seorang sesepuh menyatakan pendapatnya, bahwa beliau merupakan generasi pertama, dan saat ini warga silungkang di Jakarta sudahmencapai Generasi yang ketiga. Disini beliau memberikan sarannya, mau di bawa kemanakah organisasi ini dengan melihat jumlahgenerasi yang ada? Generasi kedua adalah mereka yang berumur 40 an ke atas, Generasi ketiga adalah generasi yang saat ini menjadipemuda, remaja, dan anak-anak. Suatu masukan yang sangat bagus sekali, di sini seharusnya warga bisa membaca maksud yang adadi dalam benak sesepuh ini. Kalau saya berasumsu, tentunya sang sesepuh ini menyampaikan ke warga, bawah kini generasi keduadan ketiga inilah yang seharusnya sudah mulai berkecimpung dalam hal organisasi warga. Jika benar ini yang di maksud sang sesepuh- COCOK bagi saya akan pemikiran dia.

Tapi sayang, yah ... banyak bisik-bisik diantara para sesepuh yang lain, bahwa untuk organisasi ini, memang Ketua maunya mereka tetap ada di generasi pertama dan generasi kedua atau ketiga hanya sebagai pendamping. Wuih .. menarik sekali, karena memang ini salah satupemikiran yang sudah sangat kuno yang mulai ditinggalkan para organisatoris baik di politik maupun di perusahaan . Entah apapemikiran pembisik di belakang saya, apakah dia takut Generasi Pertama tidak di HORMATI lagi? atau takut GENERASI PERTAMA perannya ditinggalkan?atau dia takut generasi pertama dianggap keluar dari peran sertanya di organisasi. Yah, tentunya sebagai seorang organisatoris kita harus selalu berpikiran positif, saya anggap saya mereka ini tetap ingin berperan serta dalam memberikan kontribusinyadi organisasi.

Namun, tak lama kemudian, terjadi lagi hal yang sangat menarik sekali. Dalam melakukan pemilihan ketua umum, peraturan rapat
anggota dalam sesi tersebut di buat sangat berbeda dengan AD/ART yang ada, nah loh? Suatu aturan organisasi yang seharusnya
disepakati sebagai RULE OF THE GAME, seolah dibuat sudah lagi tidak berlaku atau dianggap memiliki arti yang berbeda? wow... nahhal inilah yang sedikit harus di luruskan. Dengan berbekal mempelajari AD/ART yang ada dan membawa buku AD/ART yang berlaku, tentunya saya harus berbicara untuk meluruskan suatu kekeliruan yang terjadi. Kebetulan sekali para supporter juga sepakat dengan apa yang saya sampaikan. Tapi sayang sekali, usulan tersebut harus patah ditangan pimpinan rapat hanya dikarenakan MENGIKUTI KEBIASAAN yang pernah di lakukan. He he he he, inilah yang saya baca dalam organisasi ini. Ternyata organisasi yang sudah cukup lama berdiri dan pernah di pimpin oleh para pemikir-pemikir aktif (tapi entah akan aktif juga dalam pelaksanaan?), ternyata organisasi ini tak lebih dari suatu "pajangan", tak lebih hanya suatu pajangan dalam suatu wadah warga keseluruhan.

Senioritas dan Rasa sungkan yang tinggi sangat di junjung dalam organisasi ini. Rasa senioritas dan rasa sungkan dngan senioritas harus mengalahkansuatu ketentuan dasar yang seharusnya diikuti organisasi. Satu saja pemikiran di benak saya, bahwa organisasi ini mengayomi seluruh warga silungkang yang di Jakarta, yang seharusnya benar-benar membawa warga ke arah ke depan, bukan kebelakang., Andhikoyang dikenal sebagai perwakilan dari setiap kampung yang ada (dari 18 kampung) dianggap sebagai mewakili suara dari seluruh warga silungkang di Jakarta. Andhiko yang seharusnya berfungsi sebagai badan legislatif membimbing serta memonitor eksekutif yangsedang berkuasa, tapi setelah saya lihat dari AD/ART merupakan bagian dari struktur pengurus eksekutif .. wuih ... menarik sekali. Dalam perdebatan, memang muncul bahwa AD/ART yang sekarang memang sudah lagi tidak cocok dan ini menjadi tugas bagi pengurus kedepan. Nah yang ini lebih mengagetkan lagi kalau bagi para organisatoris yang paham akan organisasi;
1. AD/ART bukanlah hak pengurus baru => AD/ART dibuat harus berdasarkan rapat anggota
2. Dalam melakukan pemilihan, dimana pengurus lama dianggap demisioner, tentunya AD/ART yang berlaku adalah AD/ART yang
di anut -> bukan AD/ART yang akan di buat.
3. Aturan sidang yang dibuat, seharusnya tidak dibuat menyimpang dari AD/ART yang ada
Entah kenapa, dengan dalih adanya kepentinga sesaat dan dalih tidak menghormati sesepuh semua aturan organisasi secara langsungharus terhapus dan terbuat aturan baru. He he he .. tapi tetap dong, sebagai seorang dalam organisasi, kita harus tetap think positif selalu, alis KUDU DITERIMA.
 
Nah, kembali lagi hal yang muncul yang sangat menarik dan lucu menurut saya. Terpilih 4 calon ketua umum yang merupakan aspirasi.Dua orang dari generasi kedua dan dua orang dari generasi pertama. Untunglah di saat itu, pimpinan sidang sudah mulai berpikiranpositif, dimana aspirasi bahwa setiap calon harus memaparkan visi & misinya sebagai acuan para ANDHIKO untuk memilih (he he he). Padahal, usulan untuk menyampaikan VISI & MISI ini bukan dari Andhiko ... wah saya berpikiran kembali, mau berdasarkan apa para Andhiko ini memilih? pertemanan, sungkan lagi, materi, jasa ke warga, dll? ho ho ho ... padahal dalam meilih suatu calon pemimpin untuk warga silungkang, tidaklah mudah. Dinamika yang muncul di tahun ini sudahlah sangat banyak dan berkembang, Dinamika para geneasi kedua dan ketiga yang kini mulai berperan di warga.

Empat orang menyampaikan visinya masing-masing, dan dua orang mengundurkan diri dikarenakan alasan yang sangat bisa diterima.Visi dan misi sang gengerasi kedua : WOW ... patut diacungkan dua jempol saya yang seharusnya mereka yang berpikirn positif punakan mengacungkan jempol kepadanya. Calon kedua, wow .. singkat, kurang padat, dan tidak menyampaikan visi ... yang seharusnya setiap yang hadir tentunya akan memilih beliau paling cocok sebagai penasehat atau sebagai pembina organisasi, yah mungkin dulu jaman jaman pak harto berkuasa, DPA nya gitu lah ....

Karena harus segera pulang ke kampung cikarang, he he he akhirnya saya meninggalkan ketoprak humor, eh arena pemilihan  dan pada saat itu saya sangat yakin, bahwa para Andhiko yang terhormat, akan pasti memilih sang calon dari generasi kedua, semua visi dan misinya jelas dan tersistem dalam menyampaikannya. Dan tentunya harapan setiap manusia bisa berubah dan bisa tidak sesuai, Alhasil, sanggenerasi pertama terpilih sebagai ketua umum warga silungkang. Dua putaran dilakukan (cukup sengit berarti pertempurannya)di putaran kedua, mungkin para andhiko merasa tambah sungkan lagi, akhirnya skor berakhir di 10 : 8 untuk sang generasi pertama.

Karena memang andhiko ini dianggap mewakili warga kampung, maka mau tidak mau saya harus merelakan jagoan generasi saya untuk kalah dan saya merelakan orang yang cocok ditempatkan sebagai penasehat, kini menduduki kursi ketua umum. Ada satu kalimat yangsaya suka dari pimpinan sidang, "ANdhiko yang memilihm tapi andhiko juga ikut brtanggung jawab, jangan menusuk dair belakang si ketua umum" Ha ha ha ...ini sangat lucu tapi sangat BERISI. Tentunya saya berpikiran sederhana, bahwa hal tersebut pastilah sering terjadi di organisasi ini. Legislatif memilih dan legislatif yang menusuk eksekutif.

Seperti kata AA Gym, nasi sudah menjadi bubur, maksudnya di sini, sang generasi kedua sudah tidak ada lagi kesempatan selain
2 atau 3 tahunan lagi. Tentunya bubur bisa di buat lebih enak jika di tambah cakwe, kacang, dll. Nah sekarang pertanyaannya
siapa nantinya yang akan menjadi cakwe dan kawan kawan untuk membuat bubur ini nikmat di makan oleh setiap pembelinya??


Posted by RICKY at 09:12:05 | Permanent Link | Comments (7) |

Thursday | August 09, 2007

Udah Apik -Apik Mulai Aneh CUK!!

09 Agustus 2007 -- yah namanya lagi ada ide, jadinya dalam satu hari ini pengennya masih mau nulis lagi, saya cuman mau sharing, kalau ternyata ada juga Sinetron Indonesia yang lumayan bagus :))  maksudnya bagus disini yah sedikit natural (mendekati lah) dan sedikit tidak WAH!!!

Sik. .sik stasiun TV nya kalau gak salah SCTV dan judul Sinetronya ARTIS MASUK DESA ..., kebetulan saya liat 2 episodenya;

1.  Pas si artis Pulang ke Desa - soalnya bapaknya bangkrut abis - jadi back to ZERO lagi

2.  Pas bapak si artis mulai dapatkan rumah & hartanya lagi, jadi back to Jakarta

diluar episode di atas - saya tidak komen.  

Yang membuat bagus ceritanya adalah, suasana desa - kalau gak salah diambilnya di daerah semarang, yang bener-bener natural dan bukan buatan.  Rumah si bapak yang masih model tahun 70 an dan jalan desa yang masih liwat sawah.  Yang lebih sipnyo lagi, si artis kota pertama kalai tinggal di desa -- wuaduh ... keselnya bukan main , liat orang ndeso yang masih pada katrok (menurut versi dia) dan he he bagus lagi, ada anak camat yang sok kaya dan sok berkuasa di desanya.  Pokoknya persis .. persis gambaran waktu saya tinggal di kota kecil di jawa timur.  Dimana mereka yang Borju dan Kurang Borju kelihatan secara materi dan powerfulnya

Dan satu lagi, terus terang saya gak tau pemain cowoknya yang jadi pacar si arti dan anak camatnya -- cuman yang jelas, wajahnya itu, bener bener bisa dibuat lugu dan yah natural bener deh...sayang saja, pemain lain yang kurang mendukung, seperti bapak dari si cewek dan bapak si cowok yang namanya PARMIN ini, "medog" jawanya terlalu dibuat buat, tidak seperti sebenernya.  Tapi si Parmin dan Si anak Camat ini -- weh ORIGINAL  NDESO keliatannya

 Cuman setelah melihat episode yang si artis back to jakarta lagi , hue he he he .. keliatannya sinetron ini bakalan mirip dengan tipikal sinetron Indonesia yang lainnya;  KEKAYAAN, POPULARITAS, MOBIL MEWAH, ANAK KOTA YANG SOK, dll yang bakalan muncul.  Dan yang pasti, cerita yang selalu bermasalah tanpa henti.  CUK !! sayang bener ini Sinetron diarahkan ke sana, padahal kalau cerita di desanya dibuat lebih lama dan mungkin lebih memunculkan karakter desa dan orang-orangnya pasti lebih bagus...

Yah mungkin, scriptwriter udah  pusing dikejar-kejar produser untuk kejar tayang, dan alhasil ceritanya bakalan saya gak akan nonton lagi pokoknya ... pasti UELEK dan gak bermutu ....memang kadang, kalau cerita-cerita di desa, kehidupan orang menengah ke bawah, TVRI masih jago di bidangnya - dan sangat sempurna dari segi pemeran, peran, suasana, dan lainnya.

Sayang .. bener bener syang CUK ! 

 

 

 

Posted by RICKY at 17:10:04 | Permanent Link | Comments (6) |

Coba Saya Sudah Tidak Berkuasa

09 Agustus 2007, sedang istirahat makan siang, kebetulan selalu membawa ransum dari rumah - penghematan dan sekalian tetap bisa stand by di depan komputer jika ada kebutuhan mendadak dari pelanggan. Baru saja ketemu satu kasus yang menarik perhatian saya, kebetulan seorang pelanggan - karena kelalaiannya dia, terlambat memberikan informasi ke saya, terpaksalah order dikerjakan dan ditunggu sampai dengan malam hari jam 11. Tak ayal lagi, entah apa laporan dia ke atasannya, sang atasan sedikit agak marah (mungkin sih). Memang inilah salah satu tugas terberat seorang pemberi jasa. Mau tidak mau tetap pelanggan adalah nomor SATU. Begitulah hukumnya yang saya masih pegang sampai sekarang. Terlepas kesalahan itu mulai dari mana letaknya. Mungkin hukum ini juga berlaku di lalu lintas di Indonesia he he he, motor dengan mobil tabrakkan, yah mau tidak mau sang mobil tetap harus bertanggun jawab, terlepas apakah itu salah si motor. Apakah kita gondok? yang layaknya manusia biasa, tentunya rasa itu ada namun semuanya tergantung bagaimana kita harus menyikapinya dengan pertimbangan tentunya Resiko yang harus di hadapi.

Kadang saya berpikir, seandainya saat ini saya memiliki orang atau perusahaan yang sangat tergantung dengan saya. Mungkin saya bisa sedikit sewenang-wenang dengan dia. Dia harus begini dan begitu, dia harus selalu tunduk dengan saya dan sebagainya. Cuman satu hal yang selalu menjadi pikiran saya sampai sekarang. Seandainya saya berlaku seperti itu kepada dia, apakah dunia ini bukannya selalu seimbang? pasti akan ada yang menyeimbangkan perlakuan saya yang mungkin membuat perlakuan saya ke dia menjadi impas. Satu lagi, apakah saya akan mungkin menjadi pelanggan dia? bisa saja supplier saya yang selama ini saya perlakukan seenak udel saya, tiba tiba dia berubah menjadi sebuah perusahaan besar atau orang besar dan kini dia membutuhkan saya sebagai pelanggan. Nah jika kondisi ini ternyata benar terjadi ... ehm .. apakah saya bisa ? atau mungkin apakah dia mau menunjuk saya sebagai supplier? wah berat kok.

Sulit kadang kita berlaku sebagai manusia yang tidak pernah lepas ketergantungan dari orang lain. Saya secara pribadi adalah sangat tergantung dengan orang lain; staff saya, istri, anak, saudara, orang tua, tetangga, Pak RT, dll yang akan pasti saya butuhkan. Jika saya berlaku sewenang-wenang pada saat memiliki kuasa untuk itu, sampai kapan kuasa itu akan melekat di tubuh saya. Mohon maaf, ini ada sedikit contoh calon pelanggan yang saya pernah dekati untuk bisa menggunakan pelayanan saya. Mulai dari tahun 2002 sampai dengan 2005 saya coba kontak dan minta dia menggunakan pelayanan saya, namun setiap kali saya telepon banyaklah hal yang dia sampaikan bahwa dia tidak bisa karena perusahaan saya tidaklah sebesar perusahaan asing yang ada. Yah, kalau itu saya akui, secara NAMA memang perusahaan saya masih kalah dengan perusahaan MULTINASIONAL. Akhirnya, saya putuskan untuk mencari kesempatan di calon pelanggan lain dengan tetap akan melakukan komunikasi dengan dia, karena saya tetap yakin, bahwa suatu saat dia pasti akan mencoba pelayanan saya.

2005 Juli terakhir saya kontak dia. Ternyata pada bulan septermber 2005, mendekati puasa kalau tidak salah - masuklah telepon ke HP saya dari sang calon pelanggan ini. Wow, tumben sekali ... tentunya berharap bahwa dia akan TRIAL service saya. Waktu mulai saya angkat, dengan ramah dan baik sekali dia menanyakan kabar saya dan kantor dna keluarga. Tentu saja setiap orang pasti akan senang. Tak lama kemudian , dia menjelaskan, bahwa dia tidak lagi bekerja di perusahaan yang dulu dan kini kondisi sedang menganggur. Saya terkejut sekali, padahal dalam posisinya dia - sulit bagi pemilik perusahaan untuk beresiko mengeluarkannya. Tapi mungkin, memang ini sudahlah jalan yang harus dia terima. Dia ingin bekerja di kantor saya untuk bisa mulai beraktifitas lagi. Bukan karena rasa dendam atau tidak suka, kebetulan perusahaan baru menerima 2 orang baru yang memang sedang kita butuhkan, jadi kondisi posisi lowongan adalah kosong. Tapi, saya katakan kedia, bahwa terkadang ada bbrp pelanggan yang menanyakan ke saya, bahwa dia butuh orang dengan skill tertentu, saya pasti akan memberikan data perusahaan tersebut ke dia. Alhamdulillah, beberpa kali ada pelanggan yang butuh orang, dan saya coba memberikan nomor sahabat tadi, kurang lebih mungkin ada tiga perusahaanlah. Selalu saya katakan, bahwa saya bukan penentunya, saya hanya dimintakan tolong jika ada orang, nah jadi semua kemungkinan di terima atau tidak bukanlah di saya. Dia paham dan dia mencoba untuk melamar bbrp tempat yang saya informasikan.

Entah sudah cukup lama kembali saya telepon dia , ternyata dia sudah kembali ke kampung halaman bersama anak dan istrinya. Yah, tentunya bukan maksud saya untuk menceritakan hal ini sebagai rasa "senang" saya. Namun, ini juga menjadi pelajaran bagi saya dan mudah-mudahan bagi para pembaca semuanya. Bumi, tetaplah bulat, nasib manusia bisa berubah setiap waktu dan semua itu harus di hadapi. Namun, berharap kita selalu baik dan hormat kepada orang lain, semoga kita tidak akan pernah merasa disakiti atau tersakiti. Tapi kadang sulit untuk menjalaninya - tapi saya yakin, ini adalah yang terbaik. Keseimbangan dalam hidup itu tetap ada dan kita harus sadari semua, bahwa jika ada Ekosistem, jika ada Rantai Makanan, maka pasti ada juga Kesinambungan hidup antar manusia.

 

Posted by RICKY at 13:40:06 | Permanent Link | Comments (0) |

Bicara dengan Bahasa Mereka

July 2007, saya ketemu kawan ex almamater sekolah menengah atas.  Surprise sekali, karena sudah kurang lebih dari tahun 94 baru ketemu di tahun 2007 yang ternyata selama ini dia tinggal di daerah tidak jauh dari saya tinggal.  Kebetulan kawan ini dia baru keluar dari tempat kerjanya dan kini masih kondisi belum bekerja.  Karena pas kebetulan sekali dia ahli di masalah ilmu merubah bentuk besi, maka saya tanyakan tentang hal teralis. Wuih, semangat sekali dia menjelaskan kepada saya ttg hal hal yang bersifat teknis dan sangat detai, pokoknya seolah olah bahwa saya akan membeli barang ke seorang tenaga penjual.   Dijelaskan tentang jenis besi, cara pasang, dll

Setelah kurang dari 1 jam ah dia jelaskan, saya cuman tanya, bisa tidak saya di buatkan teralis dengan budget yang saya minta?  .. lalu kemudian dia jelaskan kembali hal hal teknis,  saya mau jenis seperti apa? ditempa? minimalis? jenis besinya apa? berapa meter? dll .... weh weh buanyak sekali features yang saya harus jelaskan.   Yah saya cuman jawab, saya cuman mau jendela bagian depan saya yang di teralis modelnya biasa saja dengan budget terbatas .... saya tidak bisa tahu saya mau jenis besi apa, atau lainnya ...lah wong saya bukan orang ahli besi kok.

Ada hal yang saya cukup bagus pelajari di sini.  Mungkin ini lebi mengarah kepada hal masalah teknik menjual.  Tapi sebenarnya bukan itu saja.  Ini juga akan berguna apabila kita menghadapi lawan bicara kita.   Ada satu kalimat yang ingat dari dulu ;  BICARALAH DENGAN BAHASA MEREKA.  Selam ini mungkin saya terlalu bodoh, pernah mendengar tapi belum pernah melaksanakan.  Mungkin kasus inilah yang bisa saya ambil contoh.  Seandainya kawan saya tadi berbicara TIDAK TEKNIS, atau mungkin sederhana saja, bisa jadi hari itu saya deal harga dengan dia.  Lah karena banyak sekali hal hal teknis yang saya tidak paham, membuat saya jadi TAKUT untuk membeli?  Saya takut membeli karena banyak hal yang saya rasa saya tidak tahu berdasarkan penjelsan dia, jadi satu kesimpulan saya, seandainya dia mau membohongi sayapun, saya tidak akan pernah tahu.  Muncullah pemikiran negatif saya.  

Lucu kan.  Kadang orang berbicara dengan orang lain atau mempresentasikan dirinya ke orang lain dengan memberikan gambaran terlalu detail sekali tanpa melihat, apakah lawan bicara kita paham atau perlu tidak mengetahui hal tersebut?  Sekarang saya berkerja di perusahaan freight forwarding, saya paham tentang istilah teknis dishipping.  Tapi tiap kali ke customer, mereka selalu banyak pertanyaan tentang beberpa istilah.  Ambillah; apa sih itu pak Surcharges?  apa sih pak itu FOB, dll.  Saya tanyakan, kenapa?  selama ini mereka selalu menerima penawaran atau presentasi dan mereka tidak paham beberpa istilah yang disampaikan?   Jadi setelah mendengarkan penjelasan dari para sales yang pernah datang ke mereka, membuat mereka tidak berani mencoba pelayanan perusahaan lain ... nah kita lihat kan resikonya.

Samalah, saya ada kawan yang menggandrungi musik UNDERGROUND dan dia memang sudah cukup lama mendalami musik ini.  Lalu saya tanya, kenapa kok gak mau rekaman? atau keluarkan album? Dia bilang, mereka tidak mau komersil, mereka tahu kalau mereka masuk ke rekaman, mereka harus mengikuti apa kata producer.  Misalkan, lagu ini JELEK harus di hilangkan, Nah lagu ini yang BAGUS, jadi ini yang di rekam ....nah ini yang dia tidak bisa terima.  Tapi dia sangat diterima di komunitas UNDERGROUND di Surabaya, dimana setiap tampil, RATUSAN penonton datang (yang notabene para pencinta UNDERGROUND ONLY).  Ini anak, groupnya sudah berapa kali di tawarkan untuk masuk dapur rekaman, tapi karena tidak se aliran dengan dapur rekamannya -- yah dia pilih tetap tampil di MALAM HARI dan tampil DI AREA KHUSUS para UNDERGROUNDER.  Saya jadi berpikir, padahal kayak RADJA, DEWA, NIDJI, DLL kok bisa masuk dapur rekaman yah? dan bisa sukses? dan mereka juga masuk DAPUR REKAMAN.  Mungkin mereka juga mengalami hal yang sama sama kawan saya tadi.... tapi mungkin bedanya adalah;  Beda Visi saja.

Mungkin RADJA memiliki VISI POPULARITAS, jadi dia mau "diatur" oleh producer, lagu mana yang akan bagus di jual (YANG COCOK DENGAN BAHASA PENDENGAR SECARA GENERAL).  Sedangkan kawan saya tidak mau diatur, karena VISI dia adalah musiknya HANYA UNTUK BAHASA DIRINYA dan KELOMPOKNYA saja.   Sebenarnya sama saja kok dengan kawan saya yang menawarkan teralis tadi.  He he he .. jadinya yah, karena tidak berbicara dengan BAHASA MEREKA, mungkin nasib yang membedakan RADJA dan kawan saya ini ....

Nah, sekarang yang harus kita sadari - apakah kita akan hidup dalam suatu kelompok tertentu? atau kita akan hidup dengan kelompok yang lebih luas.  Tentunya jika kita ingin hidup di lingkungan yang lebih luas , banyak "BAHASA MEREKA" yang dengan terpaksa akan mengorbankan kepentingan kita atau mungkin mengorbankan keinginan kita.  Seorang tenaga penjual, harus mengorbankan keinginannya untuk dilihat sebagai seorang AHLI oleh pelanggannya, dengan cukup menjelaskan, "pak ini murah dan bagus, dan cocok dengan kebutuhan bapak" dan seorang SENIMAN juga harus mengorbankan karyanya yang menurutnya HEBAT tapi ternyata tidak bagi MEREKA.   Anda mau pilih yang mana?

 

 

 

Posted by RICKY at 12:46:50 | Permanent Link | Comments (5) |

Wednesday | August 01, 2007

KESEIMBANGAN ITU ADA : AKSI vs REAKSI


Selasa, 31 Juli 2007 hari yang cukup melelahkan di kantor.  Semua janji kepada klien harus di tunda sampai minggu depan,

dikarenakan setiap akhir bulan semua klien harus melakukan tutup buka dan stok opname.  Otomatis, satu hari penuh saya harus

jalani semua kegiatan di dalam kantor.   Seharian hanya duduk didepan komputer dan meja kerja bukanlah suatu hal yang

menyenangkan, apalagi ditambah target yang ditentukan perusahaan belumlah tercapai dengan baik.

Sembari kutak katik data di komputer dan mencoba mencari kesempatan untuk bisa melakukan sales call ke pelanggan yang

sekarang, saya sembari memperhatikan kegiatan para staff yang lalu lalang serta sibuk dengan kegiatannya masing-masing.  

Tak lama kemudian,  kemudian seorang klien menelepon saya ke nomor HP yang harus selalu stand by sepanjang hari.  Dia

menanyakan status dokumennya yang belum dikirimkan padanya setelah semua dilakukan pada hari sabtu.  Kemudia saya minta staff

saya untuk cek dengan bagian lapangan untuk dokumennya dan segera di kirimkan melalui mesin fax atau melalui fasilitas email.

10 menit berlalu, saya minta kembali dia untuk cek apakah sudah terkirim, dan walhasil, sangat mengejutkan sekali, karena

dokumen tersebut belum dikirimkan melainkan masih dicari karena menurut orang lapangan dokumen tersebut terselip dan belum

dilakukan data entry untuk sistem di kantor.   Karena pelanggan sudah dua kali menelepon saya, maka dengan sedikit nada kesal

dan marah, saya minta untuk segera di kirimkan tanpa ada alasan lagi.  Tak lama, kurang masa dari dua menti, dokumen sudah

terkirimkan dan pelangganpun telah menerima dari mesin fax mereka.

Setelah semua selesai, seperti biasa saya melakukan laporan mengenai kasus ini, yang kata orang Jepang, setiap masalah kecil

harus dilakukan 5W+1H (What, who, when, where, Why, dan How) untuk mecari akar permasalahan serta solusi kedepannya.  Namun

sedikit tersentak juga, karena sang orang lapangan melaporkan hal yang berbeda dari apa yang dilaporkannya melalui telepon,

dengan alasan karena kesibukannya jadi permintaan dokumen dikirimkan di hari sabtu lalu, baru dikirimkan hari selasa.  Wow,

sungguh mengejutkan.

Tanpa melanjutkan kasus diatas, sedikit saya akan membahasa mengenai tentang keberanian manusia dalam menghadapi masalah atau

keberanian manusia dalam mengakui kesalahan.  Kesalahan, adalah suatu tindakan yang diambil diluar jalur yagn semestinya dan

memiliki imbas negatif pada pihak lain.  Dalam sebuah perusahaan, dikenal adanya REWARD dan PUNISHMENT, dimana setiap manusia

akan mendapatkan penghargaan atas performance kerjanya yang positif dan bagaimana seorang mendapatkan sanksi akan

kesalahannya yang dibuat, apalagi untuk kesalahan yang dilakukan secara berulang (repetisi).

Dalam hakikatnya, setiap manusia tidak akan pernah luput dari melakukan kesalahan, orang menyebutnya adalah suaru kekhilafan.

 Mungkin disini ada yang bisa membantu saya dari para pembaca untuk memberikan sedikit informasi kepada saya, apa sebenarnya

arti dari kata KESALAHAN dan KHILAF dalam kamus besar Bahasa Indonesia.  Dalam suatu hukum aksi reaksi, setiap tindakan

seorang manusia akan mendapatkan balasan yang sesuai dengan yang dikerjakannya.  Reaksi tersebut bisa dirasakan langsung

namun bisa juga dirasakan kemudian.

Saya melihat, suatu kebohongan adalah salah satu senjata seseorang dalam menghindari suatu sanksi atau reaksi pada dirinya.  

Namun, suatu keseimbangan tidaklah dapat dihindari, sepeti beberapa pepatah selalu mengatakan, Siapa bermain api, maka dia

akan terbakar (paling tidak terpercik apinya).  Siapa bermain dengan air, maka dia akan basah.  Ini merupakan pepatah yang

sangat menarik, dimana suatu kesemimbangan dalam kehidupan dicerminkan dan ini seolah tidak dapan dihindari oleh mahluk lemah

yang hidup di dunia.

Apakah sifat dari seseorang yang melakukan kebohongan untuk menghindari suatu reaksi pada dirinya akan terbebas darinya?  

saya merupakan orang yang sangat yakin akan hukum keseimbangan.  Tentunya, reaksi akan tetap kembali pada dirinya, hanya saja

reaksi yang bagaimana dan kapankah akan datang.  Tentunya suatu kemudahan bagi mereka yang merasa "dikerjai" untuk memberikan

keseimbangan bagi mereka yang melakukan suatu aksi.  Namun, pertanyaannya, apakah suatu balasan haruslah bersifat seimbang

atau sama seperti yang dirasakan?

Kembali kepada sang pemberi aksi.  Sifat normal manusia adalah selalu bersifat defensif.  Meskipun orang selalu bilang bahwa

orang tersebut "nrimo" namun perasaan defensif itu akan tetap menggebu di dalam hati nuraninya.  Sebenarnya, di dalam

peribahasa atau pepatah juga pernah mengatakan, bahwa PENGALAMAN MERUPAKAN GURU YANG TERBAIK.  Apa maksud sebenarnya dari

kalimat tersebut?  apakah setiap orang tidak pernah menyadarinya dengan lebih dalam?  Ketakutan adalah musuh utama di diri

manusia, ketakutan akan sakit, mati, miskin, disalahkan, dipecat, di hukum, dll  akan selalu muncul pada setiap kesalahan.

Padahal, hal tersebut belumlah dirasakannya, masih berupa bayang-bayang.  Mereka masih takut hanya dengan bayang-bayang

kedepan, padahal bayang-bayang tersebut mungkin tidak akan pernah terjadi.  Sayang sekali, apabila hidup kita dipenuhi dengan

ketakutan akan bayang-bayang yang tidak akan pernah terjadi atau belum terjadi.  Betapa malunya kita tehadap pencipta kita,

yang jelas-jelas menciptakan untuk menjadi pemimpin di dunia, namun kita masih belum mampu mengendalikan kematagan diri kita.

Tak lepas ketakutan yang muncul adalah dari lingkungan.  Lingkungan dimana secara tidak langsung membentuk karakter kita.  

Lingkungan dimana semua keinginan terpenuhi, kehidupan dimana setiap kesalahaan pasti tidak pernah di salahkan, atau suatu

kehidupan dimana seseorang selalu mendapatkan pujian.  Lingkungan tersebut memang sangat menyenangkan, namun tanpa

disadarinya lingkungan tersebut yang justru akan menghancurkan karakter kita sebagai seorang pemimpin.  

Kesalahan, bisa dilakukan berulang kali tak lepas sifat dari manusia, namun orang sering menyebut, tiga kali kesalahan yang

sama dilakukan berulang, tak ubahnya seekor keledai.  Namun, apakah benar sama dengan keledai? tentunya bukan itu yang

dimaksud.  Itu hanyalah suatu gambaran dimana seekor keledai memang memiliki sifat yang sedikit nyleneh, sebenarnya bukan

hanya keledai, mungkin kuda, kambing, sapi, monyet, buaya pun sama.  Mereke memilik insting, namun insting hewani hanya

bersifat untuk kelangsungan hidupnya.  Manusia tidak memiliki insting, namun Manusia memiliki akal.  Akal, bukan bersifat

pasif, namun akal bersifat aktif dan selalu responsif dalam segala hal.  Setiap aksi yang masuk didalam otak secara normal

sebenarnya sudah memiliki respons yang tepat.  Namun, sayang sekali, banyak manusia dikarenakan ketakutan dan bayang

bayangnya harus mematikan respons sang otak.  Hati Nurani selalu berbicara hal yang benar, namun sayang sekali setiap orang

harus menutupinya dengan kain hitam, atau mungkin dengan jelaga.  Hati Nurani seharusnya mampu mengalirkan instruksi kepada

otak untuk melakukan proses untuk meminta bagian lain dalam tubuh untuk bertindak.  Namun, kadang transmisi illahi dari hati

nurani kadang harus menghadapi banyak hambatan. Hambatan yang terbentuk dari lingkungan dan pengalaman, hambatan yang dibuat

akan ketakutan dan hambatan yang terbuat dari suatu sifat yang kerdil.  

Saya bukanlah seorang yang perfect dalam memanajemeni hati dan otak, semua hambatan tersebut acap kali muncul tanpa terasa,

karena memang sudah menjadi kebiasaan.  Namun, saya sadar, bahwa saya harus singkirkan hambatan itu.  Karena saya sadar,

bahwa hambatan itu akan secara langsung menghambat kelancaran hidup serta kelancaran saya dalam meraih VISI saya.  Dan saya

ingin bangga pada diri saya sendiri bahwa suatu reaksi belum tentu akan berakibat negatif bagi saya.

Posted by RICKY at 00:21:50 | Permanent Link | Comments (2) |