Agustus 1992 (wuih lama bener...) he he tapi itulah awal saya belajar berorganisasi di lingkungan yang kecil, yaitu di sekolah menengah atas. Padahal, sebelumnya saya belum pernah berkecimpung sama sekali dalam suatu organisasi apapun. Entah kenapa, para kawan-kawan yang tergabung dalam grup pencinta alam, memberikan dukungan moral dan strategi yang maksimal yang akhirnya saya menduduki jabatan ketua OSIS. Wow, jabatan bergengi kah? Bisa saya katakan iya. Dengan kondisi bahwa OSIS di SMA adalah OSIS yang sudah mulai mandiri, dimana 90% administrasi dan kegiatan diatur langsung oleh organisasi ini. 10% - yah dana OSIS yang masih di pegang oleh pihak bendahara sekolah tentunya. Jadi masalah duit, masih belum bisa dilepas.
Dengan tidak ada pengalaman sama sekali dalam organisasi, tentunya saya harus memilih pendamping alias wakil yang sudah cukup matang dalam organisasi. Dalam aturannya, pemenang kedua dan ketiga dalam pemilihan harus menjadi wakil dan sekretaris. Namun terus terang, karena kondisi sama-sama tidak berpengalaman (semua calon he he he) akhirnya saya tunjuk calon independen yang diluar para calon, seorang kawan yang aktif di bidang jurnalistik. Wow. ..kawan satu ini, ternyata sangat senior dalam organisasi. Mulai dari surat menyurat, penomoran, sampai dengan undangan, sampai dengan rapat dan sidang, beliau sangat sabar membimbing saya yang tergolong anak baru di OSIS.
Dalam menjalankan organisasi yang kecil inilah, say aberkenalan dengan satu jargon yang sampai sekarang masih terngiang di telinga saya. POLITIK WC. He he he sedikit kasar namun ini menarik untuk dibahas. Mungkin bagi beberpa kawan sudah pernah mendengar jargon ini atau mungkin baru pertama kali mendengar. Ada satul hal kasus yang menarik bagi saya di saat menjabat sebagai ketua OSIS. Saat acara hari kemerdekaan, kami harus membuat acara perlombaan dan acara santai ... dan kemudian kami pilih acara FUN BIKE, yang saat itu emang sedang ngetren.
Kasus yang menarik adalah di saat panitia telah melalui jalur birokrasi yang ada untuk mendapatkan perijinan; penggunaan jalan, keramaian, dan lain-lain. Tak disangka, ternyata perijinan tersebut sangat mudah dan cepat sekali di dapatkan, dalam tempo 2 hari semua sudah selesai. Tingaal menunggu hari H yang sudah ditunggu tunggu dan tentunya sudah ada keyakinan bahwa semuanya berjalan sangat lancar. 2 Hari sebelum hari H - seorang guru TU memanggil, bahwa saya mendapatkan telepon dari kantor walikota. Langsung saya terima telepon dan beliau meminta saya sebagai ketua OSIS untuk datang ke kantor walikota berkenaan dengan acara FUN BIKE. Wow, kenapa neh? wah .. cukup dag dig dug juga .. lah disuruh nemuin walikota langsung, bukan staffnya.
Akhirnya, setelah mendapatkan ijin dari sekolah untuk keluar lingkungan sekolah, naik sepeda motor astrea prima saya berangkat menuju kantor walikota bersama seorang kawan, yang kebetulan adalah salah satu panitia FUN BIKE. Berharap kami bisa saling berdiskusi pada saat ada masalah yang muncul. Namun, sangat terkejut sekali, di saat menaiki lantai dua dimana kantor walikota berada, kawan saya disuruh menunggu diluar dan hanya saya yang diperbolehkan masuk. *GLuk* tentunya tambah ngeri juga neh ... lah salah apa kita ini?
Lebih terkejut lagi di saat memasuki ruangan walikota yang besar, ternyata bukan walikota saja yang berada di sana, para pejabat lain, seperti sekda, kepolisian, TNI, dan beberpa pejabat dari departemen lain sudah duduk di kursi semuanya dan sudah ada tiap orang satu gelas kopi yang harumnya terasa sekali. Bapak lumbangaul, itulah orang yang memulai berbicara, yah dari namanya tahulah kalau dia adalah orang seberang dan kebetulan saya tidak menanyakan posisi beliau, karena di kepala udah pada puyeng berpikiran, kenapa lagi ini?
Ricky, kami minta acara FUN BIKE saudar di tunda atau di pindahkan rutenya, karena hari tersebut adalah berketepatan denga acara FUN BIKE PEMDA setempat dengan rute yang sama. HA!!! cukup terkejut sekali, apa yang dia minta ke saya. Kemudian saya sedikit menjawab, bahwa perijinan rute dan hari sudah kami dapatkan dengan stempel resmi kebetulan dari kepolisian setempat 2 minggu sebelumnya dan karena tidak tahu untuk apa datang, saya tidak membawa datanya. Tapi saya sebutkan nama orang yang memberikan ijin, dan beliau mengatakan bahwa masih belum ada rute dan jadwal yang masuk selain dari kami. Satu orang dari aparat kebetulan sering kerumah orang tua juga hadir di sana dan saya sangat mengenal wajahnya. Tetap saya bertahan bahwa kita tidak bisa merubah rute, karena waktu sudah tinggal 2 hari dan ternyata ijin mereka baru masuk beberpa hari saja ... jadi dengan posisi ini tentunya kesalahan bukan di pihak saya. Karena saya posisi defen, pada berkoarlah mereka yang hadir di sana, memintasaya untuk mengalah. Wow, mengalah? tentunya harus dilihat konteks dimana kesalahan itu terjadi. Karena kalah suara dari para pejabat tinggi serta kalah posisi hue he he sendirian jek, anak SMA dilawan orang tua tua yang sudah umur 40 an tahun keatas. Dan akhirnya, keputusan dari mereka: saya harus ganti jalur, ganti hari, atau ada sangsi ke saya. Wah wah .. ini dia nih, tambah menarik sekali. Lah kalau secara hukum, saya harus mengadu kemana? orang semua pejabat ada di situ dan sudah satu suara. AKhirnya, dengan melihat saya mewakili bukan pribadi, tapi mewakili OSIS, akhirnya saya mengalah dan mengatakan, saya akan memberikan jawaban siang ini jam 12 siang, karena saya harus adakan rapat koordinasi dahulu. Akhrinya mereka setuju dan saya pun keluar dari kandang singa he he he
Saya mencoba negosiasi dengan pihak pembina OSIS untuk membantu, ternyata he he mereka sudah lebih tahu masalah ini dan mereka tidak bisa memberikan dukungan ke OSIS. Akhirnya, dengan cepat hari itu juga kami ganti rute yang ada dengan tidak merubah hari H yang ada. Selesai semua, kami telepon pihak kantor walikota dan kami konfirmasi bahwa kami rubah rute dan akan kami kirimkan (maaf waktu itu sekolah ane belum ada mesin fax .. ndesssoo tenan kan). Dan kami minta waktu itu, rute ini harus disetujui dan tidak ada embell embel harus ada perijinan ulang. Mereka setujua dan akhirnya acara berjalan dengan loncer sekali.
Disana seorang kawan mengatakan, itulah yang namanya politik WC, politik WC? apa itu? dia mengatakan, politik ini bagaikan orang yang masuk ke kamar mandi dan sedang membuang hajatnya. Kita lihat, tentunya dalam saat pertama kali dia melakukan kegiatannya, tentunya tak tahan juga dengan bau bauan yang ada. Tapi, di saat dia lebih lama di dalam sana, tentunya bau tersebut sudah seakan menjadi bau bauan yang sangat harum dan asik. he he he .. jadi kawan ini bicara, mereka yang saya hadapi, tentunya di saat awal juga pasti akan tidak sepaham, namun melihat kondisi, situasi, posisi, dan lain-lainnya dia harus menahan apa yang dia tidak sepahamkan dan lama kelamaan dia sudah akan terbiasa dengan itu. Sama saja dengan artikel di blog ini tentang "Mau Idealis atau Realistis". Sang pejabat baru (diperankan derry drajat) dipaksa harus mengikuti "bau" yang sudah ada dengan melihat posisinya dan lama kelamaan akhirnbya dia merasa enjoy dengan suasananya.
Hanya orang-orang yang diluar kamar mandi yang masih sadar akan bau yang mengganggu akan selalu berteriak ...WOIII .. BAUUU oiiii ... , siram KEK, jangan makan jengkol kek .. dan lain .. lain. Orang tesebut akan selalu berteriak setiap ini muncul namun jikalau orang yang diluar tersebut masuk juga di dalam WC.. he he he entah apakah dia akan berusaha untuk menutup hidungnya atau dia akan berusaha membuat suasana akan enjoy baginya.? mau di posisi manakah anda?